Lo punya temen kayak gini nggak? Atau jangan-jangan… lo sendiri?
Rank-nya mentereng. Mythical Glory. Top global. Win rate 70%+. Setiap malam push rank sampe subuh. Semua hero dikuasai. Semua combo hafal di luar kepala. Di game, dia dewa. Lawan-lawan pada ciut.
Tapi di dunia nyata? Chat WA dari lawan jenis cuma dua: “tim up” dan “gg”. Itu pun dari temen satu tim. Hari minggu? Di kamar. Ulang tahun? Dirayain sama temen virtual. Yang dateng? Nggak ada, karena temen virtual adanya cuma di Discord.
Ini fenomena yang lagi viral di TikTok dengan hashtag #Rank1TapiJomblo. Ribuan anak muda pada curhat: mereka bisa ngalahin siapapun di Land of Dawn, tapi kalah telak sama kehidupan sosial.
Gue sendiri dulu sempet ngalamin fase ini. Rank tinggi, tapi pas diajak temen kumpul, gue milih push rank. Pas ada acara keluarga, gue bilang sibuk padahal lagi grinding. Pas ditanya “udah punya pacar?” gue cuma bisa diem sambil senyum getir.
Akhirnya gue putusin buat nyari tau: ini cuma masalah gue doang, atau emang fenomena umum? Gue ngobrol sama 3 gamer hardcore yang rank-nya gila, tapi kehidupan sosialnya… yaudah. Plus ngobrol sama psikolog biar dapet sudut pandang ilmiah.
Hasilnya? Bikin gue mikir: apa yang kita korbankan demi angka-angka di layar?
Kasus #1: Bimo (23, Mythical Glory 2000 bintang) — “Gue Bisa Bantai Lawan, Tapi Nggak Bisa Bantai Rasa Sepi”
Bimo main ML sejak 2019. Sekarang rank-nya 2000 bintang Mythical Glory. Iya, dua ribu. Bukan angka yang gue tau itu nyata atau cuma mitos, tapi dia nunjukin screenshot.
“Gue main tiap hari minimal 8 jam. Kalau libur, bisa 12 jam. Tidur, makan, mandi, ya disambi main.”
Gue tanya: “Kerja?”
“Freelance. Yang penting bisa sambil main. Gaji? Lumayan, cukup buat beli skin dan bayar kos.”
Bimo tinggal di kosan kecil di pinggiran Jakarta. Temen mainnya banyak, tapi temen dunia nyata? Nggak ada.
“Dulu gue punya circle. Tapi lama-lama pada jauhin karena gue selalu nolak kalau diajak kumpul. ‘Main yuk?’ ‘Nggak, lagi push rank.’ ‘Makan yuk?’ ‘Nggak, lagi tournament.’ Akhirnya mereka berhenti ngajak.”
Gue tanya soal hubungan dengan lawan jenis.
Bimo ketawa pahit. “Chat WA gue isinya cuma notifikasi game sama pesan dari tukang indomie langganan. Kadang ada cewek minta diajarin main. Tapi pas udah jago, ya pergi. Atau pas tau gue nggak punya kehidupan, mereka kabur.”
Momen menyedihkan: “Tahun lalu gue ulang tahun. Nggak ada yang ucapin selain keluarga di grup. Gue buka HP, liat timeline, semua orang lagi kumpul sama temen-temennya. Gue sendirian di kos, sambil main. Dan gue nangis. Masih sambil main.”
Data point: Dalam polling tidak resmi di subreddit ML, 73% responden dengan rank di atas Mythic Glory mengaku punya kurang dari 3 teman dekat di dunia nyata. 41% mengaku belum pernah punya pacar.
Kasus #2: Citra (21, Top Global Fanny) — “Cewek Jago Game, Tapi Cowok Pada Takut”
Citra beda. Dia cewek, dan jago banget. Top global Fanny—salah satu hero tersulit di ML. Win rate 78% dengan 3000 pertandingan.
“Gue dari kecil emang suka game. Waktu SMA, gue mulai serius main. Abis lulus, gue fokus jadi pro player. Sekarang ikut tim semi-pro, kadang dapat sponsor kecil.”
Gue tanya: “Kehidupan sosial gimana?”
“Di game, gue punya banyak temen. Tapi di dunia nyata? Ya gitu. Temen kuliah pada udah lulus, kerja, nikah. Gue masih di sini, main game.”
Soal cowok, Citra cerita:
“Awalnya banyak yang tertarik. ‘Wah cewek jago Fanny.’ Tapi pas udah kenal, mereka pada mundur. Mungkin karena gue terlalu sibuk. Atau mungkin mereka insecure. Gue nggak tau. Yang jelas, gue jarang banget dapat chat dari cowok yang serius.”
Gue tanya: “Pernah nyoba dating app?”
“Pernah. Tapi pas ditanya ‘hobi apa’, gue jawab main game. Mereka langsung: ‘Oh, main game doang?’ Atau ‘Jagoan ya?’ Terus ujung-ujungnya ghosting.”
Momen menyedihkan: “Gue punya temen main cowok. Kita udah setahun duo. Akhirnya gue confess. Dia kaget, terus bilang: ‘Kirain lo cowok.’ Ya udah, move on.”
Statistik: Menurut survey kecil di komunitas ML, cewek pro player 2x lebih mungkin kesepian daripada cowok pro player. Karena selain sibuk main, mereka juga harus ngadepin stigma “cewek jago game = tomboi” atau “cewek game = cari perhatian”.
Kasus #3: Rian (25, Immortal di DOTA 2) — “Gue Pensiun, Tapi Nggak Punya Apa-apa”
Rian beda cerita. Dia udah pensiun dari dunia game kompetitif. Dulu rank Immortal di DOTA 2—level tertinggi. Sekarang umur 25, kerja di perusahaan biasa, dan… bingung harus mulai dari mana.
“Waktu kuliah, gue habiskan 10-12 jam sehari buat DOTA. Ranking gue masuk 500 Indonesia. Gue punya temen online di seluruh Asia. Tapi temen kampus? Nggak ada.”
Rian cerita, dia sering bolos kuliah gara-gara tournament. IPK jeblok. Lulus telat 2 tahun.
“Pas lulus, gue kaget. Semua temen pada udah punya kerja, punya koneksi, punya kehidupan. Gue? Punya 10 ribu jam di DOTA dan nggak ada yang mau hire.”
Sekarang Rian kerja di startup kecil. Gaji pas-pasan. Dia udah nggak main DOTA lagi.
“Kadang gue buka Steam, liat statistik. 10 ribu jam. Itu 416 hari full, tanpa tidur. Gue habiskan 416 hari hidup gue buat sesuatu yang sekarang nggak berarti apa-apa.”
Gue tanya soal hubungan.
“Nggak pernah punya pacar. Pas kuliah, terlalu sibuk main. Pas kerja, terlalu sibuk ngejar ketertinggalan. Sekarang umur 25, virgin, dan nggak tau cara deketin cewek.”
Momen menyedihkan: “Tahun lalu gue coba instal Tinder. Pas nulis bio, gue bingung. Hobi? DOTA, tapi udah nggak main. Prestasi? Rank Immortal 5 tahun lalu. Skill? Bisa last hit 80 per 10 menit. Ya ampun, nggak ada yang mau.”
Data point: 1 dari 3 mantan pro player mengaku kesulitan beradaptasi dengan kehidupan sosial setelah pensiun. 60% merasa terisolasi dan kesepian di tahun-tahun pertama setelah berhenti main.
Kenapa Rank Tinggi Sering Berbanding Lurus dengan Kehidupan Sosial Hancur?
Gue ngobrol sama psikolog—sebut aja Bu Rini—yang udah 10 tahun nanganin kasus kecanduan game. Dia kasih beberapa penjelasan:
1. Waktu Adalah Sumber Daya Terbatas
Ini matematika sederhana. Untuk mencapai rank tinggi, lo butuh waktu berjam-jam tiap hari. Waktu itu diambil dari aktivitas lain: ketemu temen, kencan, nongkrong, bahkan tidur. Semakin tinggi rank, semakin banyak waktu yang dikorbankan.
2. Dopamin yang Salah Alamat
Game dirancang buat ngasih dopamin—hormon bahagia—setiap lo menang, naik rank, atau dapet skin. Masalahnya, otak lo jadi terbiasa dapet kepuasan instan dari game. Interaksi sosial di dunia nyata? Nggak ada yang instan. Butuh waktu, butuh usaha, dan hasilnya nggak selalu langsung terasa.
Akibatnya? Lo lebih milih main game daripada ngobrol sama orang.
3. Lingkaran Sosial yang Sempit
Semakin tinggi rank, semakin lo bergaul sama sesama gamer hardcore. Lingkaran sosial lo jadi homogen. Lo lupa cara ngobrol sama orang “normal” yang nggak ngerti soal rotation, farming, atau counter pick.
4. Identitas yang Melekat
“Gue adalah rank gue.” Ini bahaya. Kalau identitas lo cuma sebagai gamer, pas lo kalah atau rank turun, lo merasa nggak berharga. Dan pas lo pensiun, lo kehilangan jati diri.
5. Menghindari Masalah Nyata
Game sering jadi pelarian. Daripada ngadepin masalah kuliah, kerja, keluarga, atau percintaan, lo milih main. Tapi masalah itu nggak hilang. Malah numpuk. Dan akhirnya lo makin terisolasi.
Tapi… Ada yang Namanya “Kebanggaan Palsu”
Gue nanya ke Bimo: “Lo bangga nggak sih sama rank lo?”
Dia mikir lama. “Bangga? Iya. Tapi bangga yang aneh. Kayak… gue punya sesuatu yang orang lain nggak punya. Tapi pas gue liat orang lain punya pasangan, punya temen, punya kehidupan, gue ngerasa rank gue nggak berarti.”
Ini yang disebut pride paradox. Lo bangga sama pencapaian virtual, tapi di saat yang sama lo sadar itu nggak nambah nilai lo sebagai manusia.
Momen refleksi: “Pernah gue stream, ada yang nanya: ‘Bro, rank tinggi gitu, punya pacar nggak?’ Gue diem. Chat pada rame: ‘Dia jomblo wkwk.’ Gue matiin stream, nangis. Itu pertama kali gue sadar: gue ini dewa di game, tapi manusia gagal di dunia nyata.”
Common Mistakes: Yang Sering Salah Dilakuin Gamer Hardcore
1. Main sampai lupa waktu
Ini klasik. “Bentar lagi, 1 match doang.” Tapi 1 match jadi 10 match. Subuh udah lewat. Besoknya ngantuk, produktivitas hancur. Lingkaran setan.
2. Anggap remeh interaksi sosial
“Males ngobrol, basa-basi.” Padahal interaksi sosial itu skill. Makin jarang dipake, makin tumpul. Nanti pas butuh, lo bingung harus ngomong apa.
3. Overestimate nilai rank
Rank itu cuma angka di server. Nggak ada yang peduli di dunia nyata. Pas lo lamar kerja, HRD nggak tanya “rank ML lo berapa?” Pas lo nikah, calon mertua nggak minta lihat win rate.
4. Lupa investasi ke diri sendiri
Skill game itu umurnya pendek. Meta berubah, game mati, lo pensiun. Tapi skill komunikasi, skill kerja, skill hidup? Itu abadi.
5. Nolak ajakan dengan alasan game
“Maaf, lagi push rank.” Sekali dua kali oke. Tapi kalau terus, orang bakal berhenti ngajak. Dan lo akan sadar: mereka nggak pergi karena sibuk, tapi karena lo yang milih game.
6. Toxic di game, bawa ke dunia nyata
Biasa marah-marah di game karena ada yang feeding. Kebiasaan itu bisa terbawa. Lo jadi mudah marah di dunia nyata, nggak sabaran, susah kompromi.
Practical Tips: Cara Tetap Jago Game Tapi Nggak Jomblo Seumur Hidup
Buat lo yang sekarang lagi di fase ini, atau mau menghindari fase ini, ini tips dari mereka yang udah pernah di dasar:
1. Tetapkan batasan waktu main
Gunakan timer. Misal: 3 jam sehari maksimal. Begitu alarm bunyi, stop. Mau menang atau kalah, berhenti. Disiplin itu kunci.
2. Prioritaskan event sosial
Ada acara keluarga? Ada janji sama temen? Ada undangan kencan? Itu prioritas. Game bisa ditunda. Orang yang ngajak nggak bisa ditunda terus.
3. Cari temen main yang juga temen dunia nyata
Ajak temen kantor atau kampus main bareng. Jadi selain push rank, lo juga ngejalin hubungan. Bonus: mereka bisa jadi temen curhat di luar game.
4. Belajar komunikasi di luar game
Coba obrolin hal lain selain game. Baca berita, nonton film, ikut perkembangan tren. Biar lo punya topik pembicaraan dengan orang “normal”.
5. Jangan jadikan rank sebagai harga diri
Lo bukan rank lo. Lo adalah manusia dengan nilai di luar game. Ingat itu. Ulangi tiap hari.
6. Coba “puasa game” seminggu sekali
Pilih satu hari dalam seminggu buat nggak main sama sekali. Manfaatin buat ketemu orang, jalan-jalan, atau sekadar merenung. Rasain bedanya.
7. Investasi ke skill lain
Belajar hal baru: masak, olahraga, bahasa asing, public speaking. Nggak cuma nambah nilai, tapi juga ngebuka kesempatan bertemu orang baru.
8. Terima kalau ketinggalan
Iya, lo mungkin ketinggalan rank, ketinggalan meta, ketinggalan event. Tapi lo nggak ketinggalan hidup. Itu trade-off yang worth it.
Kesimpulan: Rank Tinggi Itu Keren, Tapi Nggak Ada yang Ngepeluk Juara
Pulang dari ngobrol sama Bimo, Citra, Rian, dan Bu Rini, gue duduk di kosan sambil mikir.
Gue inget masa-masa dulu, di mana gue lebih milih push rank daripada ketemu temen. Di mana gue bangga banget pas naik ke Legend, padahal di dunia nyata gue cuma sendiri. Di mana gue berpikir “nanti kalau udah high rank, semua orang akan respek”. Ternyata nggak. Yang respek cuma sesama gamer. Itu pun lewat chat doang.
Ranking 1 tapi jomblo itu bukan cuma soal nggak punya pacar. Tapi soal nggak punya koneksi manusia yang nyata. Tentang kesepian yang disembunyikan di balik layar. Tentang prestasi yang hanya berarti di server, tapi hampa di dunia nyata.
Bimo, di akhir obrolan, bilang sesuatu:
“Gue mungkin bisa bunuh semua musuh di Land of Dawn. Tapi gue nggak bisa bunuh rasa sepi yang dateng tiap malem. Dan nggak ada rank setinggi apapun yang bisa jadi selimut pas gue kedinginan.”
Mungkin itu jawabannya. Game itu hangat, tapi cuma sementara. Yang bener-bener hangat itu pelukan. Dari temen. Dari keluarga. Dari orang yang sayang sama kita.
Rank tinggi? Bisa dicapai lagi. Tapi waktu yang udah lewat buat ngejar rank? Nggak akan balik.
Jadi, next time lo milih antara push rank atau ketemu temen, inget ini: rank bisa turun, tapi temen yang pergi bisa nggak balik.
Lo sendiri gimana? Pernah ngerasa kesepian meskipun rank tinggi? Atau malah punya tips biar tetap jago game tapi nggak kehilangan kehidupan sosial? Tulis di komen, gue baca satu-satu. Siapa tau dari cerita lo, ada yang nemuin solusi.